Tuesday, February 16, 2010

Selipar, Maulid dan darah di kulit kuning langsat



Ini sedutan dari blog "Perjalanan Salik" 


"Kuliah guru kami minggu lepas juga menceritakan hal yang sama, walaupun majlis sambutan maulid tidak dibuat di masjid, tetapi di rumah-rumah acara sambutan tetap dibuat. Kasut dan selipar dibawa masuk ke dalam rumah, dan pintu dimangga dari luar. Sambutan Maulid tetap diteruskan."


Dan ini petikan dari blog "Sampahseni".  Saya juga teringat dengan sajak Usman ini.  Kita petik untuk dinikmati bersama:


"Lihatlah makam nenek moyang sebagai sejarah terpahat
darahnya dalam darahmu segar di kulit kuning langsat
esok, ketika tahun baru, akan kukirimkan sebuah angpau
dalamnya sebuah cinta dari jantung tanah dan pulau!

Usman Awang
1961"


Tapi ada yang terus-terusan,  menjerit-jerit (tentang membasmi rasuah, keadilan dan negara yang satu) seolah-olah kita semua pikun dan buta.


"Sialan!!", kata temanku di Jogja!!

.




No comments: