Tuesday, November 25, 2014

Pemimpin pemikir





Pemimpin dan idea yang terjuntai


Diteruskan syarahnya:

“Pemimpin itu kitalah yang pilih, usung, angkat dan berikan amanah untuk memimpin.
Aku, sama seperti saudara,  punya suara dan pandangan tentang pemimpin dan kepimpinan.   
Aku, sama juga seperti saudara, bertanggungjawab dalam memilih pemimpin.

Aku mungkin seorang yang gemar bersyarah dan kerjaku setiap hari ialah bersyarah.  Sama ada seluruh dunia melihatku bersyarah atau pun tidak, itu tidak ada sebarang kesan kecuali saudara ini (dia menghampiriku, aku mundur setapak).  Saudara ini suka sekali, setiap kali aku hadir bersyarah. (Sekali lagi dia menghampiriku, aku cuba berdiri tegak seperti patung).   Tidak apa, bukankah kerjaku ialah bersyarah tentang dunia?  Dunia yang kacau!!”

Begitu melihat ada yang lalu lalang membuang puntung rokok, dia berhenti mendadak.  Seperti helang di puncak menara PWTC, dia menukik lalu menyambar sisa tembakau yang belum dibakar habis itu.  Dan di situlah dia bertinggung untuk sekian lamanya sambil menarik nikmat yang tak terkatakan.  Lama kemudiannya, baru disambungnya syarahan:

“Aku suka rokok dan gemarkan sisa-sisa puntung rokok yang dibuang.  Pemimpin punya kuasa, kedudukan, pangkat dan pengaruh.  Apakah pemimpin juga suka sisa nikmat puntung rokok dunia dan segala isinya?”

Aku, sama seperti saudara, memilih pemimpin bukan untuk memburu keinginannya tapi untuk mengurus negara dan orang-orang sepertiku!”

“Puntung rokok! Puntung rokok!!! Siapa ada puntung rokok paling nikmat?”

Tanpa disedarinya, puntungnya juga terjuntai seperti terjulurnya segala idea dan pemikiran para pemimpin negaranya tentang ekonomi dan bla bla...



No comments: